Mataram, 29 September 2021
Oleh: Dr. Liya Maulidianti, Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma
Pembahasan mengenai bunuh diri sampai sekarang masih dianggap tabu. Meskipun kini, kasus bunuh diri menjadi isu serius di negara maju dan menjadi masalah yang terus meningkat kasusnya di negara berkembang, bahkan, menurut data WHO Global Health Estimates, jumlah kematian akibat bunuh diri di dunia mendekati 800.000 kematian per tahun atau sama dengan 1 kematian per 40 detik, isu ini masih belum banyak mendapat perhatian. Sangat jarang ada pikiran untuk menilik alasan seseorang hingga memutuskan bunuh diri, kelainan apa yang dimilikinya lantas pikirannya tidak jernih, dan bagaimana langkah yang baik untuk membantu mencegah kasus bunuh diri tersebut.
Pada beberapa laman berita yang mewartakan kasus bunuh diri, komentar warga-net dalam menanggapi pun sangat bervariasi. Masih banyak yang menganggap kasus bunuh diri sebagai bahan candaan, tindakan tanpa dasar, cari sensasi, atau paling sering adalah muara dari depresi yang disebabkan lemahnya iman seseorang.
Jika mengaitkan antara depresi dan bunuh diri. Memang benar, bunuh diri adalah salah satu ancaman paling mengerikan dari depresi. Namun demikian, persepsi mengenai apa itu depresi juga perlu diperjelas. Depresi bukanlah hal sederhana seputar tidak kuat iman, kurang beribadah, cari perhatian, atau pun cari sensasi. Depresi merupakan bagian dari gangguan jiwa, yakni gangguan medik serius yang menyangkut kerja otak yang menetap dalam beberapa waktu serta mengganggu fungsi keseharian seseorang.
Penyebab terjadinya gangguan ini pun sebenarnya sangatlah kompleks. Terdapat beberapa faktor yang kadang kala saling berkaitan hingga akhirnya muncul gejala, antara lain: (1) Faktor organobiologi; yang paling popular adalah mengenai gangguan mood yang berhubungan dengan disregulasi heterogen pada senyawa biogenik, yakni norepinefrin dan dopamin. (2) Faktor genetik; meskipun jalur untuk menjelaskannya sangat kompleks, namun penelitian pada keluarga, menunjukkan hasil bermakna sebagai salah satu penyebab gangguan mood, setidaknya pada beberapa orang. (3) Faktor psikososial; antara lain peristiwa-peristiwa kehidupan dan stress lingkungan yang pernah dialami orang tersebut. (4) Faktor kepribadian; jenis kepribadian tertentu ternyata lebih dominan untuk menyebabkan gangguan depresif, contoh: gangguan kepribadian obsesi-kompulsi, histrionik dan ambang, ternyata berisiko tinggi mengalami depresi dibanding dengan gangguan kepribadian paranoid dan antisosial. (5) Faktor kognitif; disebutkan bahwa terdapat teori yang menyatakan bahwa depresi merupakan hasil penyimpangan kognitif spesifik, seperti: pandangan negatif terhadap diri sendiri, kecendrungan menganggap lingkungan bermusuhan dengannya, dan bayangan penderitaan dan kegagalan di masa depan.
Perlu diketahui, depresi datang bukan tanpa tanda. Saat gangguan depresif muncul, akan ada keganjilan yang tampak dari perilaku seseorang seperti kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit konsentrasi, hilangnya nafsu makan, hilangnya kemampuan kognitif, atau gangguan fungsi vegetatif lain seperti tidur, aktivitas seksual, dan atau ritme biologik lainnya.
Merujuk pada penjelasan sebelumnya bahwa depresi adalah salah satu masalah jiwa, maka pengobatan adalah kebutuhan. Tentu, setelah didiagnosa dengan tepat melalui serangkaian anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan status mental oleh tenaga ahli, yakni dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater. Selanjutnya, setelah diagnosis diangkat, maka akan dibuatkan rencana terapi, baik medikamentosa maupun non medikamentosa sesuai penyebab dasar depresinya.
Hanya saja, stigma di masyarakat mengenai gangguan jiwa dan upaya mencari pertolongan pada ahli jiwa dirasa masih sulit untuk dihilangkan. Harus ada upaya mendobrak batasan bahwa meminta pertolongan adalah hal yang manusiawi. Kepekaan terhadap orang-orang di sekitar harus mulai ditumbuhkan, rasa empati untuk menolong harus dimunculkan. Kepekaan dan empati inilah yang kemudian akan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, termasuk bunuh diri.
Featured Image Sumber: @Sillvi_Illustrations
Recent Comments