Oleh : dr.Pande Made Dwi Budiarta
Nyeri punggung bawah/ Low Back Pain (LBP) adalah suatu gejala klinis yang ditandai rasa nyeri atau perasaan tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah dan sekitarnya yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit dan dapat dipengaruhi faktor psikososial. Secara anatomik, daerah tulang belakang tersebut adalah Lumbal I sampai sakrum dan otot – otot sekitarnya.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018, prevalensi penyakit muskoloskeletal di Indonesia yang pernah di diagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7%. Jumlah penderita nyeri punggung bawah di Indonesia tidak diketahui pasti, namun diperkirakan antara 7,6% sampai 37%. Prevalensi LBP pada tahun 2017 sekitar 7,5% dari populasi global atau sekitar 577 juta orang. LBP menjadi salah satu penyebab disabilitas sejak tahun 1990. Berdasarkan review yang dilakukan oleh Meucci R.D., dkk terhadap 28 penelitian, didapatkan prevalensi sebesar 4.2% kejadian LBP kronis pada usia antara 24 – 39 tahun dan 19.6% pada usia antara 20 – 59th. Prevalensi LBP kronis meningkat linear dari dekade ketiga kehidupan hingga usia 60 tahun dan lebih banyak pada wanita.
LBP disebabkan oleh bermacam – macam penyakit seperti fraktur, sprain lumbar, lumbar spondilosis tumor benigna atau maligna, artritis reumatoid, spondiloartropati, osteoporosis, skoliosis, infeksi pada vertebra, retroperitoneal dissease, renal artery thrombosis , aortic aneurysm maupun psikogenik seperti neurosis kompensasi.Para antropolog mengemukakan teori yang sangat mengesankan, yaitu bahwa LBP merupakan suatu konsekuensi logis perkembangan manusia dari quadripedal menjadi bipedal. Saat manusia hidup dalam kondisi quadripedal , maka berat badan disangga oleh keempat ekstremitas yaitu dua bagian belakang dan dua bagian depan, sehingga beban yang diterima tulang punggung tidak besar dan tersebar merata.
Secara normal kurvatura normal pada lumbal adalah lordotik, sebagai konsekwensi dari keadaan tersebut maka kedudukan vertebra L5 terhadap S1 menjadi miring, normal akan membentuk sudut sekitar 340 ( sudut ferguson). Kurvatura ini dipertahankan oleh ligamen dan otot pada daerah spina. Pada keadaan normal Center of Gravity (COG) tubuh terdapat pada 21/2 cm di depan segmen S2 di garis tengah dan bila oleh suatu sebab terjadi perubahan letak COG maka posisi tubuh harus dibantu dengan kontraksi otot – otot tubuh dan dapat menyebabkan peregangan ligamen yang akan menyebabkan nyeri.Tulang belakang memiliki bagian berupa korpus vertebra yang di selingi oleh diskus invertebra, yang memiliki fungsi sebagai shock absorbers . Diskus intervertebra memiliki rongga ditengahnya yang berisi nukleus pulposus. Pada keadaan HNP sering terjadi pada L5-S1 dan L4-L5 pada daerah posterolateral karena annulus fibrosus lebih tipis di bagian posterior dan tidak terdapat ligamen pelindung annulus fibrosus dibagian ini. LBP juga dapat diakibatkan oleh kesalahan postur, dimana postur tubuh yang baik adalah kepala tegak dengan kurvatura tengkuk normal, bahu mendatar pada bidang frontal, perut tidak menonjol kedepan dan kurvatura normal. Jika terdapat kesalahan postur maka lokasi yang mendapat tekanan terbesar adalah daerah yang memiliki kurvatura cekung dalam hal ini adalah daerah lumbal.
Penanganan LBP secara garis besar dapat menggunakan berbagai macam pendekatan, seperti Farmakoterapi untuk mengurangi nyeri dapat diberikan NSAID , muscle relaxant dapat juga diberikan antidepresant trisiklik untuk nyeri kronik.
Terapi modalitas dapat menggunakan TENS untuk menginhibisi sinyal nosiseptif, infrared dapat diberikan sebelum melakukan latihan, dan ultrasound untuk meningkatkan elastisitas kolagen dan peningkatan suhu. Penggunaan ortosis berupa korset lumbosakral dapat diberikan untuk memberikan efek imobilisasi.
Terapi latihan dapat diberikan untuk mengurangi nyeri disabilitas batang tubuh dengan cara penguatan otot-otot abdomen dan ekstensor panggul serta peregangan otot-otot ekstensor punggung bawah. Menurut penelitian berbasis meta analysis yang dilakukan oleh Fayez I.N., dkk (2019) menyatakan bahwa adanya perbaikan signifikan pada index disabilitas pada pasien dengan LBP yang dilakukan terapi Mc Kenzie exercise dibandingkan dengan Manual terapi dan manfaat jangka pendek dari terapi latihan ini adalah menurunkan rasa nyeri. Beberapa macam terapi latihan yang dapat dilakukan adalah: A. William’s flexion exercise
- Pelvic Tilt

Bertujuan menguatkan otot gluteus maksimus dan mencegah hiperlordosis lumbal
Tehnik :
- Posisi berbaring
- Tekankan punggung kebawah sehingga datar seluruhnya dan menempel dasar.
- Sambil tegangkan otot perut dan kedua otot gluteus maksimus, pertahankan selama 5-10 hitungan.
- Single knee to chest

Untuk merilekskan otot – otot punggung yang tegang dan spasme.
Tehnik :
- Posisi berbaring, tarik lutut kiri dengan kedua tangan sejauh mungkin kearah dada, tanpa menimbulkan rasa sakit. Pertahankan selama 5-10 detik, kemudian kembali ke posisi awal.
- Ulangi dengan gerakan yang sama untuk tungkai kanan
- Double knee to chest

- Posisi berbaring
- Lutut kanan dan kiri dalam keadaan fleksi
- Pegang kedua lutut dan tarik sejauh mungkin kearah dada selama 5-10 detik
- Partial Sit-Ups

- Lakukan seperti pelvic tilt
- Saat melakukan gerakan pelvic tilt angkat kepala dan bahu sampai terangkat dari lantai
- Tahan selama 5-10 detik
- Balik kembali ke keadaan semula perlahan
- Hamstring stretch

– Posisi duduk kaki diluruskan dengan posisi lutut lurus
– Secara perlahan turunkan badan kebawah menuju tungkai bawah
– Lengan terulur sepanjang tungkai bawah.
– Mata menghadap kedepan
6. Hip Flexor Stretch

– Posisikan satu kaki di depan kaki yang lain dengan posisi lutut kiri (depan) di tekuk dan lutut kanan ( depan ) ditahan dalam posisi lurus
– fleksikan kedepan sepanjang tubuh sampai lutut kiri menyentuh lipatan ketiak
– Ulangi dengan posisi kaki kanan di depan dan kiri di belakang
7. Squat

– Berdiri dengan kedua kaki dengan lebar sejajar bahu
-Pertahankan posisi badan sebisa mungkin tegak lurus kearah lantai
– secara perlahan turunkan tubuh dengan menekuk lutut
B. MC KENZIE Back Extension Exercise
- Prone Lying :

Posisi berbaring dengan perut dibagian bawah dan lengan disamping badan dan kepala mengarah ke satu sisi. Pertahankan posisi ini selama 5-10 menit
- Prone lying on elbows :

Posisi berbaring dengan perut dibagian bawah dengan tumpuan berat badan pada bahu dan lengan dan hip menyentuh lantai. Pertahankan posisi ini dalam waktu 5-10 menit. Jika terasa nyeri, ulang latihan pertama dan ulang gerakan ini lagi.
- Prone press-up :

posisi berbaring dengan perut menyentuh lantai dengan telapak tangan berada sejajar bahu, seperti melakukan push up. Angkat bahu secara perlahan dengan hip tetap menempel pada permukaan lantai dan biarkan perut dan punggung dalam posisi melengkung. Turunkan bahu secara perlahan. Ulangi 10 kali
- Progresive extension with pillow :

Posisi berbaring dengan perut bagian bawah, lalu tambahkan bantal di bawah dada. Setelah beberapa menit tambah 1 bantal lagi, setelah beberapa menit tambah bantal ketiga jika tidak terasa nyeri. Lalu pertahankan posisi ini sampai 10 menit . Lepas bantal satu persatu dalam waktu beberapa menit.
- Standing extension

Dalam posisi berdiri, letakkan tangann pada punggung dan tekuk punggung kebelakang. Pertahankan dalam waktu 20 detik dan ulangi. Lakukan latihan ini setelah aktifitas pada pagi hari yang membuat punggung dalam posisi fleksi, seperti : angkat beban, menekuk tubuh kedepan, duduk, dll.
Lakukan olahraga ini pada lantai atau permukaan yang keras. Latihan dilakukan 2 kali sehari dengan 5 kali gerakan tiap latihan, dapat ditingkatkan sesuai dengan peningkatan kekuatan otot. Jangan terburu – buru dan jangan menahan nafas. Jika terasa nyeri konsultasikan ke dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi.
Recent Comments